Freeware/OSS dan Sebuah Sikap
Posted On Tuesday, November 28th, 2006 By admin
Disclaimer: Tulisan berikut merupakan reaksi terhadap komentar beberapa rekan pemakai freeware perpustakaan yang masih “terkagum-kagum” dengan iklan lowongan diskriminatif di M****TV yang diposting di sebuah milis.
Engkau menanam pohon
Tapi tak mengajak tanah
Engkau menanam pohon
Tapi tak mengajak air
Engkau menanam pohon
Tapi tak mengajak musim
Engkau menanam pohon
Tapi tak mengajak pohon
Engkau hanya menanam
dirimu sendiri
(Mustofa WH — Berita yang Menyakitkan di Pagi Hari)
+—————————————————————-—————–+
Di zaman yang serba canggih ini (tapi susah dan serba mahal), banyak sekali pilihan teknologi yang bisa digunakan untuk memudahkan administrasi di perpustakaan. Bisa memakai teknologi “borjuis” dengan harga tinggi karena komersial (proprietary), dukungan vendor-vendor besar dengan tenaga berpengalaman, atau memilih jalan “proletar” dengan menggunakan software opensource atau freeware.
Bagi yang (merasa) tidak mampu bayar (atau tidak mau bayar), sudah kadung familiar dengan software proprietary, memilih menggunakannya dengan cari patch atau crack nya di internet, atau membeli di mall/plaza yang jual software bajakan.
Bagi yang ingin membersihkan diri (I’m trying hard) dengan memilih jalan proletar, semuanya (kalau bisa) opensource atau freeware dari operating system sampai aplikasi sehari-hari. Walau jujur saja sampai saat ini masyarakat Indonesia kebanyakan masih “mesra” dengan Microsoft dan windows-based software karena sudah tergantung (dependent) sekian tahun sejak mengenal yang namanya komputer. Juga sampai sekarang belum semua software yang biasa dipakai oleh kebanyakan manusia Indonesia sudah ada substitusinya di software yang freeware atau opensource tadi.
Ada situs yang bagus sekali tentang perbandingan antara software opensource/freeware dengan proprietary. Anda juga bisa mengunduhnya disana. Silakan menuju situs ini osalt
Sekarang mari kita berbicara sedikit tentang pemakaian software yang free dan opensource di dunia perpustakaan. Sampai saat ini sudah banyak sekali software gratisan diluar sana yang bisa dan biasa dipakai oleh para pekerja informasi di dunia pusdokinfo (perpustakaan, dokumentasi dan informasi). Bisa saya sebut beberapa diantaranya: ISIS/WinISIS, GDL, KOHA, OtomigenX, Emilda, Greenstone, Openbiblio, phpmylibrary, Igloo & Senayan –buatan Pak Hendro Wicaksono asli anak Indonesia
–, dan Athenaeum Light yang sudah mulai “nge-trend” dipakai oleh banyak perpustakaan di Indonesia.
Tentang freeware dan opensource
Terlepas dari strategi marketing para vendor (karena freeware merupakan software dengan batasan fitur dari software yang proprietary), jelas freeware tetap menguntungkan penggunanya. Untung karena kita tidak harus mengeluarkan uang untuk memakainya. Untung karena kita bisa mengambil manfaat darinya secara bebas tanpa ada tuntutan hukum apapun karena memang legal.
Sebagai pemakai freeware, sadar atau tidak sadar kita telah memilih jalan proletar! Freeware dalam lisensinya tersebut “free of charge” yang berarti free tanpa dibeli tapi juga free tanpa jaminan support dari vendor. Itu berarti sebagai pemakai Anda harus benar-benar menguasai dan mengendalikan software tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Bila menginginkan lebih dari itu, Anda harus membelinya dengan biaya yang telah ditentukan oleh vendor. That’s the rule!
Biasanya para pemakai membentuk sebuah komunitas yang berguna untuk mengisi hilangnya support tadi. Karena sebagai komunitas, tentunya ada rasa berbagi dan rasa memiliki sebagai sesama pengguna software.
Menurut saya, memilih untuk menggunakan dan tidak menggunakan software proprietary, tidak hanya soal pilihan cost atau biaya, tapi juga ideologi (nilai-nilai). Kenapa? Mari saya tambahkan kutipan sebuah tulisan dari I Made Wiryana (dedengkot Linux Indonesia) dengan judul “GNU/Linux bukan sekedar suatu sistem operasi alternatif”. Disitu Pak Made mengutip sebuah tulisan, sebagai berikut:
Sekali orang telah memanfaatkan suatu teknologi sebagai alat bantu secara ekstensif, maka teknologi itu pun berarti “telah’’ menggunakan orang tersebut. Sehingga ini merubah pola pandangan manusia terhadap realita pula. (Rawlins, 1996). Seperti yang diungkapkan oleh Neil Postman dalam Technopoly, setiap perangkat bantu selalu datang bersama dengan “embedded ideology’’ tertentu.
Ideologi (nilai-nilai) yang dibawa oleh freeware dan opensource menurut saya antara lain:
1. Persamaan bagi pemakainya, tanpa membedakan status sosial, gender, ras, agama, ideologi. Siapapun boleh menggunakannya. Legal!
2. Penolakan terhadap kekuasaan yang melulu bisnis (anti-kapitalis)
3. Kemerdekaan untuk memanfaatkan sesuatu yang terbatas menjadi tanpa batas
4. Kebebasan untuk memilih
5. Kemandirian dan kreatifitas
Kalau mau konsisten, sebagai pemakai freeware hendaknya kita semua memahami, meresapi dan menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut diatas. Merubah attitude (sikap). Freeware bukan sekedar tidak mempunyai cukup uang untuk membeli versi fullnya. Tetapi lebih dari itu, sebuah kebanggaan. Menggunakan freeware berarti sejatinya bukan hanya menggunakannya dengan “as is” (apa adanya), tapi juga merubah cara pandang, pola pikir dan sikap penggunanya.
Menurut saya, bila masih ada yang berperilaku kebalikan dari poin-poin diatas, dengan membuat pembedaan atau memaklumkan pembedaan, Anda tidak konsisten. Kalau masih ada yang mentolelir iklan-iklan lowongan yang semacam itu, anda gagal sebagai pemakai freeware yang sesungguhnya (ideal). Karena Anda sebetulnya hanya menghindari penggunaan biaya saja. Anda masih kapitalis, cuma sekedar tidak mau rugi atau mau untung dengan sekecil-kecilnya usaha (modal). Tidak lebih dari itu.
Dan menurut saya, anda seperti puisi diatas: menyedihkan.
Tanya, kenapa? CMIIW