Information Literacy di Perpustakaan Suratkabar

“We are drowning in information, while starving for wisdom. The world henceforth will be run by synthesizers, people able to put together the right information at the right time, think critically about it, and make important choices wisely.” — by E. O. Wilson from Consilience: The Unity of Knowledge

Tulisan berikut dimaksudkan sebagai pengantar untuk memahami pentingnya melakukan information literacy bagi para wartawan untuk menunjang tugas-tugas jurnalistik dan menjelaskan situasi peran dan fungsi pustakawan khususnya dalam melakukan information literacy. Sebagai latarbelakang, information literacy dilakukan di The Jakarta Post, sebuah harian berbahasa Inggris terkemuka di Indonesia.

Saya bekerja sebagai pustakawan rujukan (reference librarian) di sebuah perpustakaan suratkabar. Di sini kami tidak menyebut unit tempat kami mengabdi sebagai perpustakaan tapi Pusat Informasi (Information Center).  Nama tersebut sedikit banyak telah bercerita bahwa unit kami diharapkan menjadi tempat rujukan utama (reference center) bagi para journalist dalam menulis berita.

Pusat Informasi The Jakarta Post (selanjutnya disebut TJPINC) merupakan jenis perpustakaan khusus. Menurut buku Periodisasi Perpustakaan Indonesia[1], perpustakaan khusus dibatasi oleh empat unsur yang keempat unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian, untuk memenuhi kriteria perpustakaan khusus harus memenuhi unsur keempat unsur tersebut. Unsur-unsur tersebut yaitu :

  1. Status atau kedudukan perpustakaan
  2. Pengelola perpustakaan
  3. Koleksi perpustakaan
  4. Pemakai perpustakaan

Merujuk pada beberapa syarat wajib diatas, perlu diberi catatan tentang keberadaan TJPINC khususnya unsur pengelola dan koleksi. Unsur kedudukan dan pemakai perpustakaan kiranya hal itu telah jelas bahwa TJPINC merupakan bagian integral dari keberadaan The Jakarta Post sebagai organisasi berita (unsur status) untuk mendukung tugas-tugas kewartawanan dengan karakteristik pemakai (user) yang unik atau khusus yaitu wartawan (journalist). Sedangkan pengelola TJPINC memiliki latarbelakang pendidikan yang bermacam-macam, tidak spesifik jurnalistik. Unsur koleksi sangat umum dan mencakup semua kelas DDC (dewey decimal classification), tidak hanya cetak tapi juga audio visual. Walau demikian TJPINC memiliki kecenderungan untuk mengoleksi subjek dengan tema jurnalistik.

Bila dikaitkan dengan fungsi atau tugas, kami bisa masuk dalam kelompok perpustakaan berita (news libraries) yaitu perpustakaan yang merupakan bagian integral dari sebuah organisasi media/berita. Tugas kami sebagai perpustakaan berita yaitu menjadi supporting unit bagi redaksi (newsroom) dalam hal ini para wartawan. Fungsi yang paling menonjol dari peran ini adalah sebagai perantara atau intermediary.

Menurut Fiona Bradley[2], news libraries terbagi atas 2 tipe utama; suratkabar dan penyiaran (broadcast). Perpustakaan suratkabar beroperasi di suratkabar dengan segala macam ukuran baik lokal maupun nasional. Sedangkan penyiaran beroperasi di organisasi radio dan televisi. Bentuk lain dari perpustakaan berita bisa ditemukan di organisasi media seperti online atau penerbitan majalah/tabloid.

Ada proses kerja yang bersinggungan diantara 2 profesi yang kelihatannya bertolak-belakang, yaitu wartawan dan pustakawan. Wartawan menghadirkan sebuah berita kepada masyarakat setelah melalui proses yang panjang dan berliku. Mereka mencari dan menemukan narasumber, meneliti latarbelakang dan mengumpulkan fakta-fakta ke dalam sebuah berita. Pustakawan bekerja di 2 ranah utama, yaitu koleksi dan rujukan. Pustakawan merawat koleksi dalam bentuk index, database dan arsip. Sedangkan dalam hal rujukan, pustakawan bekerja sebagai perantara atau intermediary antara user (dalam hal ini wartawan) dengan koleksi atau sumber informasi.

Setiap awal tahun The Jakarta Post mengadakan workshop untuk wartawan pemula atau wartawan berpengalaman yang mulai bergabung di perusahaan. Mereka biasa disebut dengan cub reporters. Redaksi memberikan kesempatan kepada pustakawan untuk memberikan pelatihan information literacy kepada mereka. Kami menyebutnya dengan “How to Use Data Base and Documentation”, yaitu bagaimana menggunakan beberapa sumber rujukan baik database milik sendiri (intranet) maupun penelusuran terpasang (online searching) dengan menggunakan sumberdaya Internet.

Berikut ini definisi information literacy dari perpuspedia[3] sebuah wiki yang dikelola oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) :

Keberaksaraan informasi atau kemelekan informasi. Di dalam bidang perpustakaan dan informasi, keberaksaraan informasi ini segera dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar sejumlah besar informasi yang tersedia di Internet.

Salah satu pengertian tentang information literacy yang paling sering dikutip adalah yang datang dari American Library Association (ALA) Presidential Committee on Information Literacy. Institusi ini menyatakan bahwa ‘.. to be information literate, a person must be able to recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effectively the needed information.’ Secara singkat, pengertian ini menyatakan bahwa setiap orang diharapkan memiliki kemampuan menemukan informasi secara tepat-guna. Ini dimulai dari kemampuan mengenali apa kebutuhan informasi pribadinya, sebelum mencari dan menemukan informasi tersebut.

Seperti telah disebut diatas, peran pustakawan dalam pelayanan adalah intermediary atau perantara. Peran ini timbul karena kegiatan yang bersinggungan dengan kegiatan wartawan yaitu mencari informasi dan menulis berita. Fiona menyebutnya sebagai librarian-journalist relationship. Pustakawan berpartisipasi dalam rapat-rapat redaksi untuk mengetahui news budget esok hari dan memberikan umpan-balik dengan menyediakan data-data pendukung untuk membantu penulisan berita. Kepercayaan merupakan aspek penting dari hubungan pustakawan-wartawan.

Wartawan biasa menggunakan berbagai macam metode untuk menemukan fakta. Biasanya mereka melakukan wawancara, observasi dan teknik dokumenter untuk mengumpulkan data dari berbagai macam sumber seperti pidato, press release, konferensi pers, laporan, statistik, rekaman, berita suratkabar, online dan berita-berbayar dari beberapa kantor berita. Seringkali informasi yang didapat terlalu banyak sehingga perlu diputuskan kelayakan, urgensi dan seberapa banyak data yang dibutuhkan untuk membuat sebuah berita.

Wartawan seringkali bermasalah dengan informasi yang tidak lengkap dan tidak akurat. Saat ini mereka banyak mengandalkan sumber informasi online yang kurang bisa diandalkan dibandingkan dengan sumber informasi yang lain. Padahal arus informasi sangat cepat, kompleks dan bisa menyesatkan. Oleh karena itu perlu dirumuskan sebuah standard untuk melakukan verifikasi atas keakuratan dari nilai informasi online tersebut.

Mengapa peran pustakawan penting? Seorang pustakawan diasumsikan berpengalaman dalam kegiatan mengumpulkan, mengevaluasi dan menentukan nilai informasi dari berbagai macam sumber baik cetak (printed) maupun non-cetak (online). Di sinilah kebutuhan information literacy muncul.

Materi yang diajarkan dalam information literacy fokus kepada strategi pencarian informasi dalam berbagai macam sumber dan bagaimana mengevaluasi untuk menentukan kelayakan dan nilai informasinya. Setiap perpustakaan biasanya memiliki database internal yang dirawat dan diupdate oleh pustakawan. Database ini bisa di gunakan secara lokal (intranet) maupun publik (internet). Database itu berupa koleksi buku maupun non-buku, arsip artikel suratkabar atau bentuk data yang sudah matang atau diolah dalam bentuk kronologis, tabel atau statistik.

Informasi online memiliki nilai yang khas karena arus informasinya yang sangat cepat dan kompleks. Begitu banyak jenis sumber online. Beberapa bisa disebut antara lain direktori, media online, blog, online journal, dan lain-lain.

<besok dilanjutkan lagih>

  1. [1] Sulistyo-Basuki. Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994
  2. [2] Bradley, Fiona. “Information literacy and news libraries: the challenge of developing information literacy instruction programs in a special library environment”. Curtin University of Technology, 2003
  3. [3] Information Literacy. retrieved 13 Februari, 2011, from the World Wide Web http://perpuspedia.digilib.pnri.go.id/index.php/Information_Literacy
Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>