Amir Hamzah dan nyanyian sunyi

Beberapa tokoh sastrawan besar Indonesia mengalami kematian yang tragis, mati muda dengan berbagai sebab. Untuk menyebut diantaranya adalah Chairil Anwar dan Amir Hamzah.

Chairil Anwar, dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” sesuai dengan karyanya berjudul “Aku”, meninggal di usia yang sangat muda dan produktif yaitu 26 tahun. Kematian muda Chairil sedikit banyak disebabkan oleh gaya hidup bohemian yang tidak kenal waktu dan sangat berantakan. Sekelumit kisah kematiannya disebut dalam beberapa paragraf di buku “DIA dan Aku: memoar Pencari Kebenaran” oleh sahabat sekaligus saksi hidup dan matinya Chairil, yaitu Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan era soeharto.

Tokoh sastrawan lainnya yang mati muda dan termasuk tokoh pujangga baru adalah Amir Hamzah. Nama lengkap beliau adalah Tengku Amir Hamzah Indera Putera, terlahir sebagai bangsawan kesultanan Langkat pada 28 Januari 1911 di Tanjung Pura, Langkat. Ia lahir dan besar ditengah revolusi dan juga wafat oleh revolusi dengan alasan yang sangat tragis: karena bagian dari keluarga kesultanan Langkat. Mayatnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kuala Begumit dengan kondisi dipancung tanpa proses peradilan pada dinihari, 20 Maret 1946. Berakhir sudah seorang pujangga besar dalam usia yang relatif muda, 35 tahun.

Selama hidupnya Amir telah menghasilkan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan. Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir yang berhasil dicatat. Karya-karya tersebut terkumpul dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Baghawat Gita. Dari karya-karya tersebutlah, Amir meneguhkan posisinya sebagai penyair hebat. Amir adalah perintis yang membangun kepercayaan diri para penyair nasional untuk menulis karya sastranya dalam bahasa Indonesia, sehingga posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan semakin kokoh.[1]

Ada yang menarik pada karyanya, yaitu terjemahan Baghawat Gita. Seperti diketahui bahwa Baghawat Gita, terjemahan dalam bahasa sansekerta भगवद् गीता ialah Bhagavad Gītā, merupakan bagian kelima dari kitab suci Weda yang berisikan filsafat kehidupan yang diperankan dalam suasana dialog antara Krishna dan Arjuna. Itu menandakan sebagai seorang muslim beliau tetap terbuka dengan teks-teks sastra agama lain. Mungkin ini juga buah dari pergaulan dengan orang-orang Jawa di Solo ketika memimpin organisasi pemuda dulu. Bagi orang Jawa tokoh Arjuna dan Krishna telah menjadi kisah pewayangan yang populer.

Sebagai seorang Sumatra, Amir Hamzah sangat bangga dengan bahasa melayu. Dalam salah satu surat yang ditujukan kepada Armijn Pane pada bulan November 1932, Amir menyebut bahasa Melayu sebagai bahasa yang molek. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata molek sebagai cantik atau elok.

Amir Hamzah juga sangat spiritual. Bacalah kata-katanya yang elok dalam puisi “Kerana kasihmu” :

Kerana kasihmu
Engkau tentukan
sehari lima kali kita bertemu
Aku inginkan rupamu
kulebihi sekali
sebelum cuaca menali sutera
Berulang-ulang kuintai-intai
terus menerus kurasa-rasakan
sampai sekarang tiada tercapai
hasrat sukma idaman badan
Pujiku dikau laguan kawi
datang turun dari datukku
di hujung lidah engkau letakkan
piatu teruna di tengah gembala
Sunyi sepi pitunang poyang
tidak merentak dendang dambaku
layang lagu tiada melangsing
haram gemercing genta rebana
Hatiku, hatiku
hatiku sayang tiada bahagia
hatiku kecil berduka raya
hilang ia yang dilihatnya.
Sebagai pengakuan atas karya kepengarangannya, Sutan Takdir Alisjahbana pernah menulis dalam sebuah buku berjudul “Amir Hamzah, penyair besar antara dua zaman dan urain Nyanyi sunyi” tahun 1979, diterbitkan oleh Dian Rakyat. Untuk merayakan ulangtahunnya yang ke-100 Januari tahun 2011 ini, saya ingin memberikan kumpulan sajak “Nyanyi Sunyi” kepada khalayak yang masih ingin mengenang kepenyairan Amir Hamzah, silahkan di download kumpulan sajak nyanyi sunyi.
Selamat menikmati
  1. [1] Amir Hamzah, sastrawan pujangga baru. http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/hamzah.html
Tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>